Berikut ini adalah puisi karangan Ali Hasjmi dengan judul menyesal. Puisi ini bertemakan tentang penyesalan dan nasihat kepada generasi muda.
Menyesal
Pagiku hilang sudah melayang,
Hari mudaku sudah pergi
Kini petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi
Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta
Ah, apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma
Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan di hari pagi
Menuju arah padang bakti.
Karya: Ali Hasjmi
Add to Cart
More Info
Selasa, 15 Desember 2009
Senin, 14 Desember 2009
Puisi Karangan Bunga – Taufiq Ismail
Puisi karangan bunga karya Taufiq ismail membicarakan peristiwa demonstrasi mahasiswa pada tahun 1966 menentang orde lama.
Berikut puisi Karangan Bunga
Karangan Bunga
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke salemba
Sore itu.
Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi
Karya : Taufiq Ismail, Tirani, 1966 Add to Cart More Info
Berikut puisi Karangan Bunga
Karangan Bunga
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke salemba
Sore itu.
Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi
Karya : Taufiq Ismail, Tirani, 1966 Add to Cart More Info
Senin, 09 November 2009
Puisi Ulang Tahun - Chairil Anwar
Puisi Ulang Tahun - Chairil Anwar .
Chairil Anwar — Kumpulan Puisi Indonesia.
Berikut ini adalah Puisi karangan Charil Anwar dengan judul Ulang Tahun.
Puisi Ulang Tahun
Hari hari lewat, pelan tapi pasti
Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
Karena aku akan membuka lembaran baru
Untuk sisa jatah umurku yang baru…
Daun gugur satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Umurku bertambah satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Tapi… coba aku tengok kebelakang
Ternyata aku masih banyak berhutang
Ya, berhutang pada diriku…
Karena ibadahku masih pas-pasan…
Kuraba dahiku…
Astagfirullah, sujudku masih jauh dari khusyuk
Kutimbang keinginanku….
Hmm… masih lebih besar duniawiku
Ya Allah….
Akankah aku masih bertemu tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Akankah aku masih merasakan rasa ini pada tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Masihkah aku diberi kesempatan?
Ya Allah….
Tetes airmataku adalah tanda kelemahanku
Rasa sedih yang mendalam adalah penyesalanku
Astagfirullah…
Jika Engkau ijinkan hamba bertemu tahun depan
Ijinkan hambaMU ini, mulai hari ini lebih khusyuk dalam ibadah…
Timbangan dunia dan akhirat hamba seimbang…
Sehingga hamba bisa sempurna sebagai khalifahMu…
Hamba sangat ingin melihat wajahMu di sana…
Hamba sangat ingin melihat senyumMu di sana…
Ya Allah,
Ijikanlah…..
Karya : Chairil Anwar Add to Cart More Info
Chairil Anwar — Kumpulan Puisi Indonesia.
Berikut ini adalah Puisi karangan Charil Anwar dengan judul Ulang Tahun.
Puisi Ulang Tahun
Hari hari lewat, pelan tapi pasti
Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
Karena aku akan membuka lembaran baru
Untuk sisa jatah umurku yang baru…
Daun gugur satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Umurku bertambah satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Tapi… coba aku tengok kebelakang
Ternyata aku masih banyak berhutang
Ya, berhutang pada diriku…
Karena ibadahku masih pas-pasan…
Kuraba dahiku…
Astagfirullah, sujudku masih jauh dari khusyuk
Kutimbang keinginanku….
Hmm… masih lebih besar duniawiku
Ya Allah….
Akankah aku masih bertemu tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Akankah aku masih merasakan rasa ini pada tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Masihkah aku diberi kesempatan?
Ya Allah….
Tetes airmataku adalah tanda kelemahanku
Rasa sedih yang mendalam adalah penyesalanku
Astagfirullah…
Jika Engkau ijinkan hamba bertemu tahun depan
Ijinkan hambaMU ini, mulai hari ini lebih khusyuk dalam ibadah…
Timbangan dunia dan akhirat hamba seimbang…
Sehingga hamba bisa sempurna sebagai khalifahMu…
Hamba sangat ingin melihat wajahMu di sana…
Hamba sangat ingin melihat senyumMu di sana…
Ya Allah,
Ijikanlah…..
Karya : Chairil Anwar Add to Cart More Info
Puisi Senja Di Pelabuhan Kecil – Chairil Anwar
Berikut ini adalah puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil Anwar.
Senja Di Pelabuhan Kecil
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Karya : Chairil Anwar (1946) Add to Cart More Info
Senja Di Pelabuhan Kecil
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Karya : Chairil Anwar (1946) Add to Cart More Info
Puisi Penerimaan – Chairil Anwar
Puisi Penerimaan – Chairil Anwar.
Berikut ini adlah puisi karya Chairil Anwar dengan judul Penerimaan.
Penerimaan
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Karya: Chairil Anwar (Maret 1943) Add to Cart More Info
Berikut ini adlah puisi karya Chairil Anwar dengan judul Penerimaan.
Penerimaan
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Karya: Chairil Anwar (Maret 1943) Add to Cart More Info
Puisi Maju – Chairil Anwar
Berikut ini adalah puisi karangan Chairil Anwar dengan judul Maju.
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
Karya : Chairil Anwar Add to Cart More Info
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
Karya : Chairil Anwar Add to Cart More Info
Jumat, 23 Oktober 2009
Puisi Priangan Si Jelita – Ramadhan K H
Puisi Priangan Si Jelita – Ramadhan K H
Berikut ini adalah puisi karya Ramadhan K H Dengan judul PrianganSi Jelita. Puisi ini bertemakan tentang keindahan alam, gadis-gadis , bukit dan gunung di daerah priangan. Semoga Puisi Priangan Si Jelita ini, menginspirasikan kita semua.
Priangan Si Jelita
Seruling berkawan pantun,
Tangiskan derita orang priangan,
Selendang merah, merah darah
Menurun di Cikapundung.
Bandung, dasar di danau
Lari bertumpuk di bukit-bukit.
Seruling menyendiri di tepi-tepi
Tangiskan keris hilang di sumur
Melati putih, putih hati,
Hilang kekasih dikata gugur.
Bandung, dasar di danau
Derita memantul di kulit-kulit.
Karya: Ramadhan K H Add to Cart More Info
Berikut ini adalah puisi karya Ramadhan K H Dengan judul PrianganSi Jelita. Puisi ini bertemakan tentang keindahan alam, gadis-gadis , bukit dan gunung di daerah priangan. Semoga Puisi Priangan Si Jelita ini, menginspirasikan kita semua.
Priangan Si Jelita
Seruling berkawan pantun,
Tangiskan derita orang priangan,
Selendang merah, merah darah
Menurun di Cikapundung.
Bandung, dasar di danau
Lari bertumpuk di bukit-bukit.
Seruling menyendiri di tepi-tepi
Tangiskan keris hilang di sumur
Melati putih, putih hati,
Hilang kekasih dikata gugur.
Bandung, dasar di danau
Derita memantul di kulit-kulit.
Karya: Ramadhan K H Add to Cart More Info
Sabtu, 10 Oktober 2009
Puisi Sungai Musi – Slamet Sukirnanto
Puisi dengan judul Sungai Musi karangan Slamet Sukirnato, bertemakan tentang Sungai Musi yang ada di Palembang.
Sungai Musi
Malam-malam : menyusuri Musi
Bulat bulan tenggelam dalam sekali
Yang kutangkap dari keruh kali
Wahai – mengendap!
Kau tahu, saudaraku ? Derum stempel
Ujungnya menusuk ombak.Membelah kolam di muka
Jung-jung rakit berdesak sempoyang pergi
Berkayuh dengan gapai dayung jadi
Menyusup kabut yang enggan berganti!
Gemerlap lampu-lampu, penerang gubuk-gubukmu
Bermain dipermukaan arus! Dan hati tak mau tembus
Di sini pada mulanya tersendat berhenti!
Kala kota: masih berpanas sekali
Spanda! Seorang lelaki menjejak tepi!
Karya: Slamet Sukirnanto Add to Cart More Info
Sungai Musi
Malam-malam : menyusuri Musi
Bulat bulan tenggelam dalam sekali
Yang kutangkap dari keruh kali
Wahai – mengendap!
Kau tahu, saudaraku ? Derum stempel
Ujungnya menusuk ombak.Membelah kolam di muka
Jung-jung rakit berdesak sempoyang pergi
Berkayuh dengan gapai dayung jadi
Menyusup kabut yang enggan berganti!
Gemerlap lampu-lampu, penerang gubuk-gubukmu
Bermain dipermukaan arus! Dan hati tak mau tembus
Di sini pada mulanya tersendat berhenti!
Kala kota: masih berpanas sekali
Spanda! Seorang lelaki menjejak tepi!
Karya: Slamet Sukirnanto Add to Cart More Info
Senin, 14 September 2009
Puisi Sorga – Chairil Anwar
Sorga
Seperti Ibu + Nenekku juga
Tambah tujuh keturunan yang lalu
Aku minta pula supaya sampai di sorga
Yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu
Dan bertabur bidari beribu.
Tapi ada suara menimbang dalam diriku
Nekad mencemooh: bisakah kiranya
Berkering dari kuyup laut biru
Gamitan dari tiap pelabuhan gimana?
Lagi siapa bisa mengatakan pasti
Di situ memang ada bidari
Suaranya berat menelan seperti Nina, punya kerlingnya
Yati?
By: Chairil Anwar (1974) Add to Cart More Info
Seperti Ibu + Nenekku juga
Tambah tujuh keturunan yang lalu
Aku minta pula supaya sampai di sorga
Yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu
Dan bertabur bidari beribu.
Tapi ada suara menimbang dalam diriku
Nekad mencemooh: bisakah kiranya
Berkering dari kuyup laut biru
Gamitan dari tiap pelabuhan gimana?
Lagi siapa bisa mengatakan pasti
Di situ memang ada bidari
Suaranya berat menelan seperti Nina, punya kerlingnya
Yati?
By: Chairil Anwar (1974) Add to Cart More Info
Puisi Sajak Burung-burung Kondor – W S Rendra
Sajak Burung-Burung Kondor
Angin gunung turun merembes kehutan,
Lalu bertiup di atas pemukiman kali yang luas,
Dan akhirnya berubah di daun-daun tembakau.
Kemudian hatinya pilu
Melihat jejak-jejak sedih para petani buruh
Yang terpacak di atas tanah gembur
Namun tidak memberikan kemakmuran bagi penduduknya.
Para tani-buruh bekerja,
Berumah di gubuk-gubuk tanpa jendela,
Menanam bibit di tanah subur,
Memanen hasil yang berlimpah dan makmur,
Namun hidup mereka sendiri sengsara.
Mereka memanen untuk tuan tanah
Yang mempunyai istana indah.
Keringat mereka menjelma menjadi emas
Yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu Eropa.
Dan bila mereka menuntut perataan pendapat,
Para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,
Dan menjawab dengan mengirim kondom.
Penderitaan mengalir
Dari parit-parit wajah rakyatku.
Dari pagi sampai sore,
Rakyat negeriku bergerak dengan lunglai
Menggapai-gapai
Menoleh kekiri, menoleh kekanan,
Di dalam usaha tak menentu,
Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,
Dan dimalam hari mereka terpelanting ke lantai.
Dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.
Beribu-ribu burung kondor,
Berjuta-juta burung kondor,
Bergerak menuju kegunung tinggi,
Dan disana mendapat hiburan dari sepi.
Karena hanya sepi
Mampu menghisap dendam dan sakit hati.
Burung-burung kondor menjerit
Di dalam marah menjerit.
Tersingkir ketempat-tempat yang sepi.
Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu
Mematuki batu-batu, mematuki udara,
Dan dikota orang-orang bersiap menembaknya.
By: W.S RENDRA Add to Cart More Info
Angin gunung turun merembes kehutan,
Lalu bertiup di atas pemukiman kali yang luas,
Dan akhirnya berubah di daun-daun tembakau.
Kemudian hatinya pilu
Melihat jejak-jejak sedih para petani buruh
Yang terpacak di atas tanah gembur
Namun tidak memberikan kemakmuran bagi penduduknya.
Para tani-buruh bekerja,
Berumah di gubuk-gubuk tanpa jendela,
Menanam bibit di tanah subur,
Memanen hasil yang berlimpah dan makmur,
Namun hidup mereka sendiri sengsara.
Mereka memanen untuk tuan tanah
Yang mempunyai istana indah.
Keringat mereka menjelma menjadi emas
Yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu Eropa.
Dan bila mereka menuntut perataan pendapat,
Para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,
Dan menjawab dengan mengirim kondom.
Penderitaan mengalir
Dari parit-parit wajah rakyatku.
Dari pagi sampai sore,
Rakyat negeriku bergerak dengan lunglai
Menggapai-gapai
Menoleh kekiri, menoleh kekanan,
Di dalam usaha tak menentu,
Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,
Dan dimalam hari mereka terpelanting ke lantai.
Dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.
Beribu-ribu burung kondor,
Berjuta-juta burung kondor,
Bergerak menuju kegunung tinggi,
Dan disana mendapat hiburan dari sepi.
Karena hanya sepi
Mampu menghisap dendam dan sakit hati.
Burung-burung kondor menjerit
Di dalam marah menjerit.
Tersingkir ketempat-tempat yang sepi.
Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu
Mematuki batu-batu, mematuki udara,
Dan dikota orang-orang bersiap menembaknya.
By: W.S RENDRA Add to Cart More Info
Senin, 07 September 2009
Puisi Layang-layang Miliku – Slamet Sukirnanto
Layang-layang Milikku
Layang-layang milikku, kumanjakan kau
Membubung di langit biru
Di alam raya bersama burung-burung yang bebas
Lihatlah dari sana, negeri-negeri yang jauh
Adakah negeri-negeri bebas yang angkuh?
Satu pesan yang kusampaikan dari bumi ini
Janganlah meninggalkan daku, kemudian kau pergi
Sebab jarak antara kita akan semakin jauh
Di kota ini aku sendiri dengan pijar nasib.
Layang-layang milikku, Kumanjakan kau
Membubung di langit biru
Sampaikan Salam : hidup teguh di sini
Nyanyian bumi dalam wujud puisi.
By: Slamet Sukirnanto, 1966 Add to Cart More Info
Layang-layang milikku, kumanjakan kau
Membubung di langit biru
Di alam raya bersama burung-burung yang bebas
Lihatlah dari sana, negeri-negeri yang jauh
Adakah negeri-negeri bebas yang angkuh?
Satu pesan yang kusampaikan dari bumi ini
Janganlah meninggalkan daku, kemudian kau pergi
Sebab jarak antara kita akan semakin jauh
Di kota ini aku sendiri dengan pijar nasib.
Layang-layang milikku, Kumanjakan kau
Membubung di langit biru
Sampaikan Salam : hidup teguh di sini
Nyanyian bumi dalam wujud puisi.
By: Slamet Sukirnanto, 1966 Add to Cart More Info
Puisi Catatan Harian Seorang Demonstran – Slamet Sukirnanto
Catatan Harian Seorang Demonstran
Jaket kuning berlumur darah
Dengan sedih kututup kawan-kawan rebah
Di bumi, diterik matahari kota Jakarta
O, kita tahu apa arti ini semua.
Tertegun di tengah galau beribu massa
Apakah benar peluru itu untuk nya?
Yang sebuah itu mungkin untukku
Telah direbut demonstran di sampingku
Udara panas kota Jakarta
Kulihat ciliwung tetap coklat airnya
Alirnya lambat mengandung duka
Apakah ini: bayang-bayang nasib kita?
Jaket kuning berlumur darah
Nyanyian gugur bunga, dalam syahdu khidmat kita
Dalam catatan harian ini semua kulihat
Dalam catatan harian ini tertulis sendat.
By: Slamet Sukirnanto, 1966 Add to Cart More Info
Jaket kuning berlumur darah
Dengan sedih kututup kawan-kawan rebah
Di bumi, diterik matahari kota Jakarta
O, kita tahu apa arti ini semua.
Tertegun di tengah galau beribu massa
Apakah benar peluru itu untuk nya?
Yang sebuah itu mungkin untukku
Telah direbut demonstran di sampingku
Udara panas kota Jakarta
Kulihat ciliwung tetap coklat airnya
Alirnya lambat mengandung duka
Apakah ini: bayang-bayang nasib kita?
Jaket kuning berlumur darah
Nyanyian gugur bunga, dalam syahdu khidmat kita
Dalam catatan harian ini semua kulihat
Dalam catatan harian ini tertulis sendat.
By: Slamet Sukirnanto, 1966 Add to Cart More Info
Kamis, 03 September 2009
Puisi Tanah Kelahiran – Ramadhan K H
Puisi dengan Judul Tanah Kelahiran karya Ramadhan K.H bertemakan tentang kerinduan terhadap kampung halaman:
Tanah Kelahiran
Seruling di pasir ipis, merdu
Antara gundukan pohon pina
Tembang menggema di dua kaki,
Burangrang – Tangkubanperahu
Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di air tipis menurun.
Membelit tangga di tanah merah
Dikenal gadis-gadis dari bukit
Nyanyikan kentang sudah digali,
Kenakan kebaya ke pewayangan.
Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut dihati gadis menurun.
Karya : Ramadhan K.H Add to Cart More Info
Tanah Kelahiran
Seruling di pasir ipis, merdu
Antara gundukan pohon pina
Tembang menggema di dua kaki,
Burangrang – Tangkubanperahu
Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di air tipis menurun.
Membelit tangga di tanah merah
Dikenal gadis-gadis dari bukit
Nyanyikan kentang sudah digali,
Kenakan kebaya ke pewayangan.
Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut dihati gadis menurun.
Karya : Ramadhan K.H Add to Cart More Info
Puisi Gadis Peminta-minta – Toto Sudarto Bahtiar
Berikut ini adalah puisi karya Toto Sudarto Bachtiar dengan judul Gadis Peminta-minta. Semoga puisi Gadis Peminta-minta ini, menginspirasikan kita semua:
Gadis Peminta-minta
Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang kebawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlap
Gembira dari kemayaan riang.
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas diatas air kotor, tapi yang begitu kauhafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk dapat membagi dukaku.
Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu tak ada yang punya
Dan kotaku, oh kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda.
Karya : Toto Sudarto Bachtiar, 1950 Add to Cart More Info
Gadis Peminta-minta
Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang kebawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlap
Gembira dari kemayaan riang.
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas diatas air kotor, tapi yang begitu kauhafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk dapat membagi dukaku.
Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu tak ada yang punya
Dan kotaku, oh kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda.
Karya : Toto Sudarto Bachtiar, 1950 Add to Cart More Info
Rabu, 02 September 2009
Puisi Aku - Chairil Anwar
Berikut ini adalah puisi dari Chairil Anwar dengan judul Aku.
Aku
Kalau sampai waktu ku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.
By : Chairil Anwar, 1946 Add to Cart More Info
Aku
Kalau sampai waktu ku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.
By : Chairil Anwar, 1946 Add to Cart More Info
Langganan:
Komentar (Atom)